Minggu, Juni 07, 2009

Perhatikan Mereka


Muka baru, cerita baru, spirit baru…yeah!!!! Awal yang baik bukan?? Kak Ega baru aja nyelesain pelatihan tiga hari tentang Jaringan Pendidikan Nasional. Seru sih, banyak yang bisa dipelajarin, kaya’nya baru kali ini deh pelatihan yang benar2 buat Kak Ega senang, soalnya banyak manfaatnya, baru kali ini juga selama pelatihan ga nguap – nguap hahahaha.
Tapi yang mo diceritain bukan ini, ak mo ceritain tentang sisi lain murid ak yang jujur aja bikin ak jadi malu ma diri ak sendiri. Terlepas dari kenakalan mereka, banyak banget cerita mereka yang bisa bikin ak surprise sendiri. Murid – murid ak ga kaya’ kebanyakan murid – murid lain yang hanya tinggal sekolah aja. Terus semuanya beres. Ga gitu.

Hampir setengah dari mereka harus berjuang sendiri buat ngebiayain sekolahnya. Tapi anehnya dan ak suka banget, keceriaan ga pernah ilang dari wajah mereka. Mungkin di sekolah mereka bener2 bisa jadi anak seusia mereka yang memang aktifitasnya ya sekolah dan maen. Makanya mereka kadang agak kelewat batas mainnya, tapi ga marah juga kalo diomelin abis – abisan. Mereka nganggepnya itu karena guru sayang ma mereka. Memperlakukan seperti anaknya sendiri.

Ak baru tau ada muridku yang bahkan, nama bapaknya siapa juga dia ga tau, mungkin itu yang buat dia sedikit bertingkah di sekolah, kurang kasih sayang.
Ada yang mamanya dari jam 3 pagi udah jualan di pasar, trus dari siang sampai malam bantu kerja di tempat orang. Waktu muridku yang satu ini bermasalah, dia mati2an ga mau orangtuanya dipanggil, bukan karena dia takut di marahin, tapi ga lebih dia bilang ‘ga mau bikin mama tambah cape’.
Tapi saat itu ak ga peduli, ak tetap manggil mamanya ke sekolah, ak liat matanya berkaca – kaca pengen nangis. Mamanya datang dan ceritain semua masalah yang ada di keluarga. Ak minta ma muridku untuk lebih toleran ma mamanya. Bayangin yang udah mamanya lakuin buat dia. Ak lihat dari mata ‘anak bandel’ itu keluar butir – butir air yang mungkin menunjukkan penyesalan. Ternyata dia tetap anak – anak yang masih polos. Alhamdulillah sekali, semenjak itu, ak lihat ada perubahan dari dirinya yang positif. Semoga berlanjut.

Anak – anak hampir sama semuanya. Mereka juga butuh perhatian. Kadang orangtua bahkan lingkungan memperlakukan mereka, seolah – olah mereka sudah dewasa dan seakan - akan sudah tau semuanya. Mereka selalu dituntut untuk tampil baik tapi lupa untuk dibimbing. Kadang hanya dengan dkasi uang jajan, semua sudah dianggap beres. Ak pernah nangis saat salah satu muridku harus keluar dan untuk pertama kalinya ak lihat orangtuanya datang ke sekolah. Saat itu muridku hampirin ak dan bertanya “Bu, apa mereka bisa dibilang orangtua kalau mereka tiap hari sudah kasi uang jajan?”. Tapi yang buat ak nangis saat dia bilang ‘Guru – guru disini jauh lebih perhatikan saya dibanding orangtua saya’. Padahal dia baru aja dikeluarkan dari sekolah, dan tanpa dendam apalagi marah bilang perkataan seperti itu. Saat itu ak berpikir ‘apakah keputusan sekolah bener?? Bagaimana kehidupan dia diluar nanti??’
Untungnya beberapa bulan ak ketemu anak itu lagi, dan luar biasanya dia masih santun dan mencium tangan sambil nanya ke ak ‘pa kabar Bu Mega?? Ibu ga usah khawatir, saya baik – baik saja.’. Dia lebih dewasa dari ak bukan??
Tapi ada juga muridku yang dikasi fasilitas yang luar biasa mewah, masih aja ngecewain orangtuanya. Ak jadi bingung… ini salah siapa??? Muridku yang ga bisa bersyukur atau Orangtua yang terlalu manjain anak???
Kaya’nya guru tuh juga bisa jadi psikolog handal kan hehehe…..

Sampai saat ini ak masih bingung mo jadi guru yang gimana. Ada yang bilang ak kelewat baik, terlalu lembut ma anak. Ada yang bilang ak deket banget ma murid. Ada yang bilang ak kelewat cuek. Tapi yang jelas ak mo jadi guru yang ngerti dengan jiwa murid – muridku. Yang bisa buat perubahan positif untuk murid – muridku. Susah tapi ga ada yang ga mungkin kan?? Saat ini ak baru belajar. Masih kencur. Masih anak bawang. Ak pun bahkan perlu dibimbing.
Jadi tolong para orangtua, anak2 kalian butuh kasih sayang. Mereka ga akan ngomong, kita yang harus inisiatif. Masuki jiwa mereka, cari tau tentang mereka…please hilangkan ego…..Perhatikan Mereka!!




23 komentar:

kak_ega_punya cerita mengatakan...

tes2 bisa comment ga ya....

Dinoe mengatakan...

Mantap nih mbak..punya visi dalam mendidik...memang benar mbak anak2 butuh kasih saya dan bkn sekedar uang jajan..nice post..

Tukang komen mengatakan...

bisa kok mbak, kotak komennya masih kerja dengan baik kok...xi...xi...xi...

RanggaGoBloG mengatakan...

Wew.. Enak yah jadi guru.. Sejuta rasanya... Hìhihi..

JengSri mengatakan...

memang sulit untuk menjadi orang tua kak ega, makanya perlu ada knowledge menjadi orang tua bukan hanya bikin anaknya aja,heheheh

Newsoul mengatakan...

Perhatian tulus seorang bu guru pd muridnya, nice. He, template baru ya, siip dah, smg makin semangat blogging ya.

badrun mengatakan...

itulah wajah pendidikan Indonesia, yang mungkin masih kurang diperhatikan oleh pemerintah. Anggaran 20% untuk pendidikan sepertinya tidak dikelola dengan baik untuk kemajuan pendidikan di negara ini.

SENDAL JEPIT mengatakan...

muka baru spirit baru, perasaan dulu rumahnya ga gini kak, pindah kontrakan ya, daku juga abis pindahan

The Chakiman mengatakan...

kunjungan pertama gue, cerita banyak pengalaman lagi okay

J O N K mengatakan...

tes juga ...
yes akhirnya bisa koment :D

selamat dulu buat templete baru nya kak, jadi makin keren nih heuheuheu

wah kalau urusannya bimbing membingbing sepertinya kak ega jago deh, jadi saya gak bisa nambahin :D

J O N K mengatakan...

kak, gimana kalau komentnya gak pake moderenisasi ?? :D

mocca_chi mengatakan...

kata temenku jadi guru itu enak, tpi aku ah, tar anak anaknya tak jewer terus lgi wkwkwk

eh e eh, templatenya keren euy

anggaarie mengatakan...

akhirnya bisa komentar juga...
he3..
kisah yang mengharukan..

vie_three mengatakan...

bacanya aq sedikit merinding kak, tentang anak2 memang banyak yg mesti dibicarain....

walah rumahnya dicat baru niy, tp kotak komentarnya gak dibawah ya kak....

Ayas Tasli Wiguna mengatakan...

sabar kak, jangan emosian.. kepada bapak2 dan ibu2 yang merasa anaknya sekolah di sekolah kak ega ngajar, tolong anak anda dididik juga di rumah, jangan disuruh nonton naruto terus ato ngabisin nasi sisa aja. ok bapak2 dan ibu2??

PurpLize mengatakan...

ega................... dicoba ....

decil mengatakan...

wah ibu guru memang baik dan bijak dan selalu sabar dalam menghadapi murid2 yg nakal....

Terus berjuang Ibu Guru jadilah bakti pertiwi yang akan di kenang sepanjang masa.^_^

IjoPunkJUtee mengatakan...

Bahagianya mereka mendapat perhatian dari mbak Ega, sesuatu yang mungkin selama ini sekedar mimpi belaka....

buwel mengatakan...

curhatan guru yang mendidik...salam kenal kak...

reni mengatakan...

Di negara kita belum punya institusi (dan dana) utk mengurusi anak-2 yg dianggap bermasalah sepertinya. Padahal, dengan penanganan yg serius mereka akan menjadi orang-2 yg berhasil. Siapa tahu bukan ?

RanggaGoBloG mengatakan...

setuju mbak.... anak gak cuma butuh uang saku *walaupun uang saku juga penting* hihihihihih

ucu atan mengatakan...

anak itu titipan Allah
ya harus dijaga, dipelihara, dibimbing, dsb

wah muka baru neh
bedak baru
gincu lipensetik baru
mantapppppppppp

Rudy mengatakan...

Baca artikel dari kak Ega kali ini aku jadi inget masa-masa kecil dulu di waktu masih sekolah.
Pengennya mau komen tapi bingung harus komen yang gimana???
Pokoknya, sifat seorang anak sangat ditentukan oleh didikan yang diterapkan oleh kedua orang tua kepada anaknya. Ada saatnya dimanja dan ada juga saatnya untuk disiplin, yang penting jangan sampai kita bersikap kasar kepada si anak, cukup dengan dibentak maupun dipelototin aku rasa itu udah cukup menyita perhatiannya...
(pengalaman semasa Alm. Papaku) he....
Selamat yah buat template barunya...
Maaf belakangan ini nggak sempat posting cuma blogwalking tok??

Poskan Komentar

makasi udah baca ceritanya kak ega.. please give ur comment and let me know who you are.. sekali lagi makasi kawan :)